Jumat, 01 November 2013

Kedudukan Manisua Dalam Alam Semesta Menurut Pandangan Islam





KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah ini. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam semester III.A STIT Al-Yaqin.
Di dalam makalah ini kami membahas tentang  Kedudukan Manisua Dalam Alam Semesta Menurut Pandangan Islam
Makalah ini sudah tentu jauh dari sempurna. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah ini. Tidak luput kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu atas terselesaikannya makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kemaslahatan umum.












DAFTAR  ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................      1
DAFTAR ISI ………………………………………………………….        2
BAB I Pendahuluan……………………………………………………
BAB II  Pembahasan…………………………………………………..        3
-          Proses Penciptaan  manusia………………………………………        4
-          Manusia Dalam Pandangan Islam ………………………………         4                     
-          Kedudukan Manusia dalam Alam Semesta …………...………        7
BAB III Penutup………………………………………………………        10
-           Kesimpulan …………………………………..………………
-          Saran …………………………………..………………………
DAFTAR PUS TAKA ………………………………………………..        11









BAB I
PENDAHULUAN

a.       Latar Belakang masalah
Manusia sesuai dengan kodratnya itu menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal, dikatakan demikian karena persoalaan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu ataupun latar belakang historis kultural tertentu. Persoalan itu menyangkut tata hubungan atar dirinya sebagai mahluk yang otonom dengan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia juga merupakan makhluk yang bersifat dependen. Persoalaan lain menyangkut kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk dengan kebutuhan jasmani yang nyaris tak berbeda dengan makhluk lain seperti makan, minum, kebutuhan akan seks, menghindarkan diri dari rasa sakit dan sebagainya tetapi juga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, menstrandensikan kebutuhan jasmaniah, yakni rasa aman, kasih sayang perhatian, yang semuanya mengisyaratkan adanya kebutuhan ruhaniah dan terakhir, manusia menghadapi problema yang menyangkut kepentiangan dirinya, rahasia pribadi, milik pribadi, kepentingan pribadi, kebutuhan akan kesendirian, namun juga tak dapat disangkan bahwa manusia tidak dapat hidup secara “soliter” melainkan harus “solider” , hidupnya tak mungkin dijalani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Belum lagi manusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan  tanggung jawab yang sangat berat yaitu  “Abdul Allah “ (hamba Allah) satu sisi dan sekaligus sebagai “Kholifah fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).
b.      Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah di kemukakan di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
·         Bagaimana pandangan Islam tentang konsep manusia ?
·         Apa kedudukan manusia dalam alam semesta ini ?
·         Apa peran penciptaan manusia menurut Alqur’an ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Proses Penciptaan  manusia
Bila diteliti secara cermat, dalam Alquran akan ditemukan informasi, bahwa ada dua macam proses penciptaan manusia, yaitu :
·         Penciptaan secara primordial, yaitu berkaitan dengan penciptaan manusia pertama, yaitu adam.
·         Proses penciptaan seluruh manusia atau generasi yang diturunkan dariadam.
Dari dua macam proses penciptaan manusia diatas, ini menunjukkan bahwa manusia pertama, yaitu adam tercipta dari tanah. Dimana Alquran tidak menguraikannya secara rinci, tentang bagaimana proses penciptaan adam. Adapun keturunan adam, tercipta melalui proses pertemuan benih laki-laki dengan sel telur wanita, melalui pancaran sperma, kemudian bertemu dengan sel telur, akhirnya terjadilah pembuahan. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari inti sari pati tanah yang ditransformasi menjadi air mani, kemudian disimpan dalam tempat yang kokoh, yaitu rahim ibu. Setelah melalui proses pembuahan, air mani tersebutselanjutnya berproses menjadi darah beku, dan kemudian berproses menjadisegumpal daging, yang kemudian dibalut dengan tulang belulang dan akhirnya Allahmenjadikannya sebagai makhluk yang berbentuk.
Kepada makhluk yang berbentuk inilah, kemudian allah meniupka ruh.
Setelah ditiupkan kedalam jasad, Allahmemerintahkan para malaikat untuk sujud memberikan penghormatan.
B.     Manusia Dalam Pandangan Islam
Konsep Manusia dan Perannya Menurut Alqur’an
Bentuk dan pola peran seseorang, secara garis besar dapat kita lihat dari kedudukan yang ditempatinya. Sedangkan untuk mengetahui hal itu, kita perlu tahu akan penamaan yang disandangnya. Begitu pula tentang peran manusia dapat dirujuk antara lain melalui berbagai sebutan yang diberikan pada manusia.
Dalam Alqur’an manusia disebut dengan berbagai nama antara lain : al- Basyr, al- Insan, an- Nas, dan konsep Bani Adam yang hal ini sebagai penolakan terhadap teori Darwin tentang evolusi bahwa manusia  adalah keturunan dari kera. Adapun pemahaman tentang peran manusia erat kaitannya dengan sebutan yang disandangnya.
a.      Konsep Al- Basyr
Manusia dalam konsep al- Basyr, dipandang dari pendekatannya biologis. Sebagai mahluk biologis berarti manusia terdiri atas unsur materi, sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik material, yaitu berupa tubuh kasar (ragawi).
Berdasarkan konsep al- Basyr, manusia tak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah-kaidah prinsip kehidupan biologis lain seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan serta kedewasaan. Manusia memerlukan makan, minum dengan kreteria halal serta bergizi (QS. 16 : 69) untuk hidup dan ia juga butuh akan pasangan hidup melalui jalur pernikahan (QS. 2 : 187) untuk menjaga, melanjutkan proses keturunanya (QS. 17: 23-25).

    b. Konsep Al- Insan  (                   )
Al- Insan terbentuk dari akar kata Nasiya (                            ), Nisyu (                     ) yang berati lupa, dari kata Insu (                  ) artinya senang, jinak,harmonis, dan ada juga dari akar kata Naus (             ) yang mengandung arti “pergerakan atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh serta berkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga dibekali dengan sejumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong ia ke arah tindakan, sikap, serta prilakun negatifdan merugikan.

    c. Konsep An- Nas   (                    )
Kosa kata An- Nas dalam Al- Qur’an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk social. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi” (QS. 49 : 13). Hal ini sejalan dengan teori “strukturalisme” Giddens yang mengatakan bahwa manusia merupakan individu yang mempunyai karakter serta prinsip berbeda antara yang lainnya tetapi manusia juga merupakan agen social yang bisa mempengaruhi atau bahkan di bentuk oleh masyarakat dan kebudayaan di mana ia berada dalam konteks sosial.

    d. Konsep Bani Adam (                            )
Manusia sebagai Bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam Al-Qur’an (Muhammad Fuad Abd al- Baqi :1989). Menurut a- Gharib al- Ishfahany, bani berarti keturunan dari darah daging yang dilahirkan.[6] Berkaitan dengan penciptaan manusia menurut Christyono Sunaryo,[7] bahwa bumi dan dunia ini telah diciptakan Allah SWT jutaan tahun sebelum Nabi Adam AS diturunkan dibumi , 7000 thn yang lalu. Pada waktu itu Allah SWT sudah menciptakan “manusia” (somekind of humanoid) jauh sebelum Nabi Adam AS diturunkan :

öNs9urr& (#÷rttƒ y#øŸ2 äÏö7ムª!$# t,ù=yø9$# ¢OèO ÿ¼çnßÏèム4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ n?tã «!$# ׎Å¡o ÇÊÒÈ  
29:19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya , kemudian mengulanginya (kembali) . Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.  Al Ankabuut – Ayat 19
Ayat ini memperlihatkan bahwa kita seharusnya dapat memperhatikan adanya pengulangan kerena memang telah terjadi. Bukan pengulangan kebangkitan kembali nanti setelah hari kiamat , karena (pengulangan) kebangkitan setelah kiamat itu belum terjadi , sehingga masih sulit untuk di mengerti oleh yang tidak percaya .
Dan banyak ayat-ayat al- Qur’an, data dan kejadian yang menunjang concept pemikiran ini . Seperti misalnya : Pada saat manusia akan diciptakan Allah SWT untuk menjadi kalifah dibumi, bagaimana para Malaikat mungkin mengetahui bahwa manusia hanya akan membuat kerusakan diatas bumi . Sedangkan Malaikat hanya mengetahui apa-apa yang diberitahukan Allah SWT kepada mereka . Tentunya karena memang mereka pernah mengetahui adanya “manusia” dibumi sebelum   AdamASdiciptakan..
Oleh sebab itu Allah SWT selalu menyatakan bahwa : “Manusia (anak-cucuAdam AS ) diciptakan dalam kesempurnaan-nya” . Dalam Injil dikatakan bahwa “Man was created upon the image of God).. Serta banyak kalimat pada Taurat (Perjanjian Lama) yang membedakan antara “anak manusia” dan “anak Allah” , “adanya manusia-manusia yang besar pada saat itu” , bagaimana takutnya anak-anak Adam yang keluar dari surga dengan adanya ancaman / gangguan diluar, dsb.
Apapun yang dikatakan dalam kitab-kitab suci , ilmu pengetahuan ataupun teknologi dapat membuktikan bahwa ada sisa-sisa “manusia” yang telah berumur jutaan tahun . Bahkan teori Darwin-pun mengalami kesulitan dalam menghubungkan manusia purba dengan manusia masa kini (The missing-linktheorema).
Dalam konsep ini dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa :
    Jelaslah disini bahwa Adam AS bukanlah merupakan hasil evolusi ataupun “keturunan monyet” , seperti dikatakan Darwin.

C.   Kedudukan Manusia dalam Alam Semesta
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki sejumlah keistimewaan bila dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Secara umum,keistimewaan tersebut, yaitu
           Bentuk fisik yang terbaik
           Fakultas psikhis
           Fitrah
Dalam konteks yang lebih luas , Alquran mengemukakan sejumlah potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia, antara lain :
a.Potensi naluriah
b.Potensi inderawi
c.Potensi menalar
d.Potensi beragama
Allah menciptakan manusia, tentunya memiliki tujuan, dimana tujuannyayaitu untuk mengenal Tuhannya. Sedangkan fungsi penciptaan manusia adalahsebagai makhluk ibadah yang diperintahkan untuk mengabdi atau menghambakan dirisecara kontinu dengan tulus dan ikhlas hanya kepada Allah semata. Selanjutnya,dalam konteks tugas dari penciptaan manusia dalam perspektif filsafat pendidikanislam, manusia adalah khalifah Allah yang diberi tugas sebagai pemimpin sertamemakmurkan kehidupan dibumi. Alquran menjelaskan bahwa bumi beserta isinya yang diciptakan oleh Allah adalah untuk kepentingan manusia, oleh karena itumerupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkanseluruh sumber yang tersedia di alam untuk memenuhi keperluan hidupnya. Namunsemua itu harus didasarkan pada ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Untuk dapatmengelola bumi beserta isinya manusia telah memilki potensi yang diberikan Allahkepadanya, potensi inilah yang membuat manusia layak menjadi khalifah.
Suatu pertanyaan yang harus dijawab bagaimana kedudukan, posisi dan/atau fungsi manusia sebagai bagian dari alam semesta yang diciptakan Allah?. Zuhairini, dkk. (1995) merumuskan kedudukan manusia dalam alam semesta sebagai berikut:
1.      Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian Allah, didasarkan pada surah Al-Jum'at ayat 10 dan Al Bagarah ayat 60;
2.      Sebagai peneliti alam dan dirinya untuk mencari Tuhan, didasarkan surah Al Baqarah ayat 164, Al-Fathir ayat 11 & 13
3.      Sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi, didasarkan pada surah Al-An'am ayat 165;
4.      Sebagai makhluk yang paling tinggi dan mulia, didasarkan surah At-Tin ayat 4 dan Al-Isra ayat 70
5.      Sebagai hamba Allah SWT. sesuai surah Al Imran ayat 83
6.      Sebagai makhluk yang bertanggungjawab, didasarkan pada surah At-Takasur ayat 8, dan An-Nur ayat 24-25 ;
7.      Sebagai makhluk yang dapat didik dan mendidik, sesuai su­rah Al Baqarah ayat 31 dan Al-Alaq ayat 1-5.
Abuddin Nata (1997) berpendapat kedudukan manusia di alam raya sebagai khalifah yang memiliki kekuasaan untuk mengelola alam dengan menggunakan segenap daya dan potensi yang dimilikinya, serta sebagai 'abd, yaitu seluruh usaha dan aktivitasnya harus dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.
Menelaah posisi manusia baik sebagai khalifah maupun sebagai ‘abd (hamba Allah) hanya dalam rangka identifikasi posisi saja, sesungguhnya kedua posisi dimaksud sulit untuk dibedakan secara tegas. Posisi manusia sebagai khalifah berkuasa dan bertugas mengelola alam semesta untuk memenuhi kebutuhan manusia guna melaksanakan fungsi kehidupannya. Ini berarti manusia melaksanakan fungsi / tugas pengabdiannya kepada Allah antara lain dengan mengimplementasikan perintah khalik mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Posisi manusia sebagai ‘abd (hamba Allah) berarti ia berkewajiban memaknai semua usaha dan kegiatannya sebagai ikhtiar dan realisasi pengelola alam raya dengan kekuasaan yang dimilikinya guna memenuhi kebutuhan hidup. Pada dasarnya kedudukan manusia di alam raya hanya sebagai hamba Allah dan khalifah, sedangkan posisi lainnya merupakan penjabaran dari kedua kedudukan tadi.
















BAB III
PENUTUP

·         KESIMPULAN
Manusia menurut Islam adalah mahluk ciptaan Allah (QS. 98: 2)[22] dengan kedudukan yang melebihi mahluk ciptaan Allah lainnya (QS. 95 : 4)[23]. Selain itu manusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan antara lain berupa fitrah ketauhidan (QS.15 :29)[24]. Dengan fitrah ini diharapkan manusia dapat hidup sesuai dengan hakekat penciptaannya, yaitu mengabdi kepada Allah SWT (QS. 51: 56)[25]. Mengacu pada ketentuan ini, maka dalam pandangan Islam, meminjam bahasa Jalaludin, manusia pada hakekatnya merupakan makhluk ciptaan Allah yang terikat dengan “Blue prient” (cetak biru) dalam lakon hidupnya,[26] yaitu menyadari akan dirinya sebagai “Abdul Allah” sekaligus mempunyai tugas sebagai mandataris Allah.
·         SARAN
Sebagi manusia hendaknya kita melakukan sesuai apa-apa yang di perintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi yang dilarang. Karena kita diciptakan sempurna dari pada makhluk Allah yang lain.
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, kritik serta saran dari audient sangat kami harapkan, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua Amiin.







DAFTAR PUSTAKA

Achmad Charris Zubair, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia (Kajian Filsafat Ilmu), Cet. I, Yogyakarta, LESFI, 2002.
Arifin, H.M Prof. M.Ed., Filsafat Pendidikan Islam,Cet. VI, Remaja Rosdakarya, PT Bumi Aksara, Jakarta ,2000.
Brian Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer, Yogyakarta, Jendela, Cet. I, 2002.
Christyono Sunaryo, http://www.macsonic.org
Hasan Langgulung, Prof. Dr Asas-Asas Pendidikan Islam, PT Al-Husna Zikra, Jakarta, Cet.I, 2000.
Jalaludin, Prof. Dr. H, Teologi Pendidikan,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Karnadi Hasan “Konsep Pedidikan Jawa”, dalam : Jurnal Dinamika islam dan Budaya Jawa, No 3 tahun 2000, Pusat Pengkajian Islam Strategis, IAIN Walisongo, 2000.
Majid Fahry , Sejarah Filsafat Islam (Sebuah Peta Kronologis), Cet. I, Mizan, , Bandung, 2001.
Paulo freire dalam Pendidikan : Kegelisahan Sepanjang Zaman (pilihan Artike lbasis). Sinhunata (ed), Kanisius, 2001 sebagaimana dikutip dalam Resensi Amanat, Edisi 84/Februari 2001.
Quraisy Shihab, Dr. M., Membumikan al-Qur’an,”Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat”, Bandung, Mizan, Cet. XXV, 2003.
Syed M. Naquib Al- Attas, filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, (terj.Wan Mohd Nor Wan Daud), Mizan, Bandung, Cet. I, 2003.
[1] Achmad Charris Zubair, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia (Kajian Filsafat Ilmu), Cet. I, Yogyakarta, LESFI, 2002, hal. 9.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar