a. Latar Belakang masalah
Manusia
sesuai dengan kodratnya itu menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal,[1]
dikatakan demikian karena persoalaan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu
ataupun latar belakang historis kultural tertentu. Persoalan itu menyangkut
tata hubungan atar dirinya sebagai mahluk yang otonom dengan realitas lain yang
menunjukkan bahwa manusia juga merupakan makhluk yang bersifat dependen.
Persoalaan lain menyangkut kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk dengan
kebutuhan jasmani yang nyaris tak berbeda dengan makhluk lain seperti makan,
minum, kebutuhan akan seks, menghindarkan diri dari rasa sakit dan sebagainya
tetapi juga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya,
menstrandensikan kebutuhan jasmaniah, yakni rasa aman, kasih sayang perhatian,
yang semuanya mengisyaratkan adanya kebutuhan ruhaniah dan terakhir, manusia menghadapi
problema yang menyangkut kepentiangan dirinya, rahasia pribadi, milik pribadi,
kepentingan pribadi, kebutuhan akan kesendirian, namun juga tak dapat disangkan
bahwa manusia tidak dapat hidup secara “soliter” melainkan harus “solider” ,
hidupnya tak mungkin dijalani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Belum lagi
manusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan
tanggung jawab yang sangat berat yaitu
“Abdul Allah “ (hamba Allah) satu sisi dan sekaligus sebagai “Kholifah
fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).
b.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian yang telah di kemukakan di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi
pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
·
Bagaimana pandangan Islam tentang konsep
manusia ?
·
Apa kedudukan manusia dalam alam semesta
ini ?
·
Apa peran penciptaan manusia menurut
Alqur’an ?
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Proses
Penciptaan manusia
Bila
diteliti secara cermat, dalam Alquran akan ditemukan informasi, bahwa ada dua
macam proses penciptaan manusia, yaitu :
·
Penciptaan secara primordial, yaitu
berkaitan dengan penciptaan manusia pertama, yaitu adam.
·
Proses penciptaan seluruh manusia atau
generasi yang diturunkan dariadam.
Dari
dua macam proses penciptaan manusia diatas, ini menunjukkan bahwa manusia
pertama, yaitu adam tercipta dari tanah. Dimana Alquran tidak menguraikannya
secara rinci, tentang bagaimana proses penciptaan adam. Adapun keturunan adam,
tercipta melalui proses pertemuan benih laki-laki dengan sel telur wanita,
melalui pancaran sperma, kemudian bertemu dengan sel telur, akhirnya terjadilah
pembuahan. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari inti sari pati tanah
yang ditransformasi menjadi air mani, kemudian disimpan dalam tempat yang
kokoh, yaitu rahim ibu. Setelah melalui proses pembuahan, air mani
tersebutselanjutnya berproses menjadi darah beku, dan kemudian berproses
menjadisegumpal daging, yang kemudian dibalut dengan tulang belulang dan
akhirnya Allahmenjadikannya sebagai makhluk yang berbentuk.
Kepada
makhluk yang berbentuk inilah, kemudian allah meniupka ruh.
Setelah
ditiupkan kedalam jasad, Allahmemerintahkan para malaikat untuk sujud
memberikan penghormatan.
B.
Manusia
Dalam Pandangan Islam
Konsep
Manusia dan Perannya Menurut Alqur’an
Bentuk
dan pola peran seseorang, secara garis besar dapat kita lihat dari kedudukan
yang ditempatinya. Sedangkan untuk mengetahui hal itu, kita perlu tahu akan
penamaan yang disandangnya. Begitu pula tentang peran manusia dapat dirujuk
antara lain melalui berbagai sebutan yang diberikan pada manusia.
Dalam
Alqur’an manusia disebut dengan berbagai nama antara lain : al- Basyr, al-
Insan, an- Nas, dan konsep Bani Adam yang hal ini sebagai penolakan terhadap
teori Darwin tentang evolusi bahwa manusia
adalah keturunan dari kera. Adapun pemahaman tentang peran manusia erat
kaitannya dengan sebutan yang disandangnya.
a.
Konsep
Al- Basyr
Manusia
dalam konsep al- Basyr, dipandang dari pendekatannya biologis. Sebagai mahluk
biologis berarti manusia terdiri atas unsur materi, sehingga menampilkan sosok dalam
bentuk fisik material, yaitu berupa tubuh kasar (ragawi).
Berdasarkan
konsep al- Basyr, manusia tak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya.
Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah-kaidah prinsip
kehidupan biologis lain seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan
perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan serta kedewasaan. Manusia
memerlukan makan, minum dengan kreteria halal serta bergizi (QS. 16 : 69) untuk
hidup dan ia juga butuh akan pasangan hidup melalui jalur pernikahan (QS. 2 :
187) untuk menjaga, melanjutkan proses keturunanya (QS. 17: 23-25).
b. Konsep Al- Insan ( )
Al-
Insan terbentuk dari akar kata Nasiya ( ), Nisyu ( ) yang berati lupa, dari
kata Insu ( ) artinya
senang, jinak,harmonis, dan ada juga dari akar kata Naus ( ) yang mengandung arti “pergerakan
atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa
manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh serta
berkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga
dibekali dengan sejumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong ia ke
arah tindakan, sikap, serta prilakun negatifdan merugikan.[4]
c. Konsep An- Nas ( )
Kosa
kata An- Nas dalam Al- Qur’an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai
makhluk social. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal
dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa
untuk saling kenal mengenal “berinterksi” (QS. 49 : 13). Hal ini sejalan dengan
teori “strukturalisme” Giddens yang mengatakan bahwa manusia merupakan individu
yang mempunyai karakter serta prinsip berbeda antara yang lainnya tetapi
manusia juga merupakan agen social yang bisa mempengaruhi atau bahkan di bentuk
oleh masyarakat dan kebudayaan di mana ia berada dalam konteks sosial.[5]
d. Konsep Bani Adam ( )
Manusia
sebagai Bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam Al-Qur’an (Muhammad Fuad Abd
al- Baqi :1989). Menurut a- Gharib al- Ishfahany, bani berarti keturunan dari
darah daging yang dilahirkan.[6] Berkaitan dengan penciptaan manusia menurut
Christyono Sunaryo,[7] bahwa bumi dan dunia ini telah diciptakan Allah SWT
jutaan tahun sebelum Nabi Adam AS diturunkan dibumi , 7000 thn yang lalu. Pada
waktu itu Allah SWT sudah menciptakan “manusia” (somekind of humanoid) jauh
sebelum Nabi Adam AS diturunkan :
Al
Ankabuut – Ayat 19
29:19.
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia)
dari permulaannya , kemudian mengulanginya (kembali) . Sesungguhnya yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Ayat
ini memperlihatkan bahwa kita seharusnya dapat memperhatikan adanya pengulangan
kerena memang telah terjadi. Bukan pengulangan kebangkitan kembali nanti
setelah hari kiamat , karena (pengulangan) kebangkitan setelah kiamat itu belum
terjadi , sehingga masih sulit untuk di mengerti oleh yang tidak percaya .
Dan
banyak ayat-ayat al- Qur’an, data dan kejadian yang menunjang concept pemikiran
ini . Seperti misalnya : Pada saat manusia akan diciptakan Allah SWT untuk
menjadi kalifah dibumi, bagaimana para Malaikat mungkin mengetahui bahwa
manusia hanya akan membuat kerusakan diatas bumi . Sedangkan Malaikat hanya
mengetahui apa-apa yang diberitahukan Allah SWT kepada mereka . Tentunya karena
memang mereka pernah mengetahui adanya “manusia” dibumi sebelum AdamASdiciptakan..
Oleh
sebab itu Allah SWT selalu menyatakan bahwa : “Manusia (anak-cucuAdam AS )
diciptakan dalam kesempurnaan-nya” . Dalam Injil dikatakan bahwa “Man was
created upon the image of God).. Serta banyak kalimat pada Taurat (Perjanjian
Lama) yang membedakan antara “anak manusia” dan “anak Allah” , “adanya
manusia-manusia yang besar pada saat itu” , bagaimana takutnya anak-anak Adam
yang keluar dari surga dengan adanya ancaman / gangguan diluar, dsb.
Apapun
yang dikatakan dalam kitab-kitab suci , ilmu pengetahuan ataupun teknologi
dapat membuktikan bahwa ada sisa-sisa “manusia” yang telah berumur jutaan tahun
. Bahkan teori Darwin-pun mengalami kesulitan dalam menghubungkan manusia purba
dengan manusia masa kini (The missing-linktheorema).
Dalam
konsep ini dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa :
Jelaslah disini bahwa Adam AS bukanlah
merupakan hasil evolusi ataupun “keturunan monyet” , seperti dikatakan Darwin.
B. Kedudukan Manusia dalam Alam Semesta
Manusia
merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki sejumlah keistimewaan bila
dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Secara umum,keistimewaan tersebut,
yaitu
• Bentuk fisik yang terbaik
• Fakultas psikhis
• Fitrah
Dalam
konteks yang lebih luas , Alquran mengemukakan sejumlah potensi yang
dianugerahkan Allah kepada manusia, antara lain :
a.Potensi
naluriah
b.Potensi
inderawi
c.Potensi
menalar
d.Potensi
beragama
Allah
menciptakan manusia, tentunya memiliki tujuan, dimana tujuannyayaitu untuk
mengenal Tuhannya. Sedangkan fungsi penciptaan manusia adalahsebagai makhluk
ibadah yang diperintahkan untuk mengabdi atau menghambakan dirisecara kontinu
dengan tulus dan ikhlas hanya kepada Allah semata. Selanjutnya,dalam konteks
tugas dari penciptaan manusia dalam perspektif filsafat pendidikanislam,
manusia adalah khalifah Allah yang diberi tugas sebagai pemimpin sertamemakmurkan
kehidupan dibumi. Alquran menjelaskan bahwa bumi beserta isinya yang diciptakan
oleh Allah adalah untuk kepentingan manusia, oleh karena itumerupakan tanggung
jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkanseluruh sumber yang tersedia
di alam untuk memenuhi keperluan hidupnya. Namunsemua itu harus didasarkan pada
ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Untuk dapatmengelola bumi beserta isinya
manusia telah memilki potensi yang diberikan Allahkepadanya, potensi inilah
yang membuat manusia layak menjadi khalifah.
Suatu
pertanyaan yang harus dijawab bagaimana kedudukan, posisi dan/atau fungsi
manusia sebagai bagian dari alam semesta yang diciptakan Allah?. Zuhairini,
dkk. (1995) merumuskan kedudukan manusia dalam alam semesta sebagai berikut:
1. Sebagai
pemanfaat dan penjaga kelestarian Allah, didasarkan pada surah Al-Jum'at ayat
10 dan Al Bagarah ayat 60;
2. Sebagai
peneliti alam dan dirinya untuk mencari Tuhan, didasarkan surah Al Baqarah ayat
164, Al-Fathir ayat 11 & 13
3. Sebagai
khalifah (penguasa) di muka bumi, didasarkan pada surah Al-An'am ayat 165;
4. Sebagai
makhluk yang paling tinggi dan mulia, didasarkan surah At-Tin ayat 4 dan
Al-Isra ayat 70
5. Sebagai
hamba Allah SWT. sesuai surah Al Imran ayat 83
6. Sebagai
makhluk yang bertanggungjawab, didasarkan pada surah At-Takasur ayat 8, dan
An-Nur ayat 24-25 ;
7. Sebagai
makhluk yang dapat didik dan mendidik, sesuai surah Al Baqarah ayat 31 dan
Al-Alaq ayat 1-5.
Abuddin
Nata (1997) berpendapat kedudukan manusia di alam raya sebagai khalifah yang
memiliki kekuasaan untuk mengelola alam dengan menggunakan segenap daya dan
potensi yang dimilikinya, serta sebagai 'abd, yaitu seluruh usaha dan
aktivitasnya harus dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.
Menelaah
posisi manusia baik sebagai khalifah maupun sebagai ‘abd (hamba Allah) hanya
dalam rangka identifikasi posisi saja, sesungguhnya kedua posisi dimaksud sulit
untuk dibedakan secara tegas. Posisi manusia sebagai khalifah berkuasa dan
bertugas mengelola alam semesta untuk memenuhi kebutuhan manusia guna melaksanakan
fungsi kehidupannya. Ini berarti manusia melaksanakan fungsi / tugas
pengabdiannya kepada Allah antara lain dengan mengimplementasikan perintah
khalik mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Posisi manusia sebagai ‘abd (hamba
Allah) berarti ia berkewajiban memaknai semua usaha dan kegiatannya sebagai
ikhtiar dan realisasi pengelola alam raya dengan kekuasaan yang dimilikinya
guna memenuhi kebutuhan hidup. Pada dasarnya kedudukan manusia di alam raya
hanya sebagai hamba Allah dan khalifah, sedangkan posisi lainnya merupakan
penjabaran dari kedua kedudukan tadi.
BAB
PENUTUP
·
KESIMPULAN
Manusia
menurut Islam adalah mahluk ciptaan Allah (QS. 98: 2)[22] dengan kedudukan yang
melebihi mahluk ciptaan Allah lainnya (QS. 95 : 4)[23]. Selain itu manusia
sudah dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan antara lain
berupa fitrah ketauhidan (QS.15 :29)[24]. Dengan fitrah ini diharapkan manusia
dapat hidup sesuai dengan hakekat penciptaannya, yaitu mengabdi kepada Allah
SWT (QS. 51: 56)[25]. Mengacu pada ketentuan ini, maka dalam pandangan Islam,
meminjam bahasa Jalaludin, manusia pada hakekatnya merupakan makhluk ciptaan
Allah yang terikat dengan “Blue prient” (cetak biru) dalam lakon hidupnya,[26]
yaitu menyadari akan dirinya sebagai “Abdul Allah” sekaligus mempunyai tugas
sebagai mandataris Allah.
·
SARAN
Sebagi
manusia hendaknya kita melakukan sesuai apa-apa yang di perintahkan oleh Allah
SWT dan menjauhi yang dilarang. Karena kita diciptakan sempurna dari pada
makhluk Allah yang lain.
Demikian
makalah yang dapat kami sampaikan, kritik serta saran dari audient sangat kami
harapkan, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua Amiin.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad
Charris Zubair, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia (Kajian
Filsafat Ilmu), Cet. I, Yogyakarta, LESFI, 2002.
Arifin,
H.M Prof. M.Ed., Filsafat Pendidikan Islam,Cet. VI, Remaja Rosdakarya, PT Bumi
Aksara, Jakarta ,2000.
Brian
Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer, Yogyakarta, Jendela, Cet. I, 2002.
Christyono
Sunaryo, http://www.macsonic.org
Hasan
Langgulung, Prof. Dr Asas-Asas Pendidikan Islam, PT Al-Husna Zikra, Jakarta,
Cet.I, 2000.
Jalaludin,
Prof. Dr. H, Teologi Pendidikan,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Karnadi
Hasan “Konsep Pedidikan Jawa”, dalam : Jurnal Dinamika islam dan Budaya Jawa,
No 3 tahun 2000, Pusat Pengkajian Islam Strategis, IAIN Walisongo, 2000.
Majid
Fahry , Sejarah Filsafat Islam (Sebuah Peta Kronologis), Cet. I, Mizan, ,
Bandung, 2001.
Paulo
freire dalam Pendidikan : Kegelisahan Sepanjang Zaman (pilihan Artike lbasis).
Sinhunata (ed), Kanisius, 2001 sebagaimana dikutip dalam Resensi Amanat, Edisi
84/Februari 2001.
Quraisy
Shihab, Dr. M., Membumikan al-Qur’an,”Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan
Masyarakat”, Bandung, Mizan, Cet. XXV, 2003.
Syed
M. Naquib Al- Attas, filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, (terj.Wan Mohd Nor
Wan Daud), Mizan, Bandung, Cet. I, 2003.
[1]
Achmad Charris Zubair, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia
(Kajian Filsafat Ilmu), Cet. I, Yogyakarta, LESFI, 2002, hal. 9.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar