MAKALAH
FILSAFAT UMUM
PEMBAHASAN TENTANGAL-KINDI
Disusun Oleh :
Kelompok II
1.
Adek
indramayu
2.
Syamsul bahri
3.
Wulan sari
4.
Rati evawasi
5.
Lisa manja
putri
6.
Kamilis
7.
Reza faulina
Dosen Pembimbing: H.ISMAIL,S.Ag
STIT AL-YAQIN
SIJUNJUNG
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah
ini. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat umum
semester satu STIT Al-Yaqin.
Di dalam
makalah ini kami membahas tentang Al -
Kindi.
Makalah ini sudah
tentu jauh dari sempurna. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan
makalah ini. Tidak luput kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu atas terselesaikannya makalah ini.
Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kemaslahatan umum.
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR .........................................................................
2
DAFTAR
ISI ………………………………………………………… 3
BAB
I …………………………………………………………………. 4
BAB
II ………………………………………………………………..
1. RIWAYAT
AL-KINDI………………………….............. 5
2. KARYA AL-KINDI…………………………………........ 6
3. FILSAFAT AL-KINDI…………………........................... 6
4.
FILSAFAT FISIKA
AL-KINDI........................................ 7
6. METAFISIKA AL-KINDI………………………….......
. 8
7. SIFAT – SIFAT
TUHAN................................................... 8
BAB
III…………………………………………………………….... 10
1. Kesimpulan …………………………………..……….....
2. Saran …………………………………..……………….....
DAFTAR
PUS TAKA …………………………………………… 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Filsafat
adalah ilmu yang membahas tentang hakekat sesuatu, baik yang bersifat teoritis
ataupun yang bersifat praktis yakni pengetahuan yang harus diwujudkan dengan
amal baik. Sampailah kita pada pengertian filsafat islam yang merupakan
hubungan dari filsafat dan islam. Filsafat islam adalah filsafat yang tumbuh di
negri islam dan dibawah naungan Negara islam, tanpa memandang agama dan
bahasa-bahasa pemiliknya.
Untuk lebih
jelasnya berikut ini kami dari kelompok I akan menguraikan dari mata kuliah
filsafat islam dengan tema tokoh filsafat islam Al-kindi.dengan pembahasan
sebagai berikut
B. Rulusan masalah
1. Riwayat
Hidup Al-kindi
2. Karya-karya
Al-kindi
3. Filsafat
Al-kindi
4. Filsafat
Fisika
5. Metafisika
6. Sifat-sifat
Tuhan
Demikianlah
makalah ini kami buat dan sekiranya ada kekurangan yang terdapat dalam makalah
ini kami kelompok I(satu) mohon ma'af dan kami siap menerima kritikan sehat
yang sifatnya membangun terutama dari Bapak Dosen Filsafat Islam dan kepada
sahabat-sahabati yang membaca makalah ini. Kami berharap setelah membaca
makalah yang sederhana ini kita dapat memetik ilmu dan menambah wawasan kita
semua.
BAB II
PEMBAHASAN
1.Riwayat Hidup Al-Kindi
Nama Al-kindi
adalah nisbat pada suku yang menjadi asal cikal-bakalnya yaitu banu kindah.
Banu Kindah adalah suku keturunan kindah yang sejak dulu menempati kindah
selatan jazirah arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup
tinggi dan banyak dikagumi orang.
Nama lengkap
al-kindi adalah Abu Yusuf Ya'kub bin Isyhaq Ash-Sabah bin Imran bin Isma'il bin
Asy'ats bin Qays Al-Kindi. Ia dilahirkan di Kuffah tahun 185 H (801 M).
ayahnya, ishaq ash-sabah, adalah gubernur kuffah pada masa pemerintahan Almahdi
dan Harun Arrasyid dari Bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa thun setelah
al-kindi lahir. Dengan demikian Al-Kindi di besarkan dalam keadaan yatim.
Memperhatikan
tahun lahirnya, dapat diketahui bahwa Al-kindi hidup pada masa keemasan
kekuasaan Bani 'Abbas. Pada masa kecilnya, Al-Kindi sempat merasakan masa
pemerintahan kholifah Harun Al-Rosyid yang terkenal sangat memperhatikan dan
mendorong perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum muslim.pada masa
pemerintahannya, bagdad menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat ilmu
pemgetahuan.
Al-Rosyid mendirikan
semacam akademi atau lembaga , tempat pertemuan para ilmuan yang disebut dengan
Bayt Al-Hikmah (balai ilmu pengetahuan). Al-Rasyid wafat pada tahun 193 H (809
M) ketika Al-Kindi masih berumur 9 tahun. Sepeninggal Al-Rosyid, putranya
Al-Amin yang menggantikannya sebagai Kholifah.
Setelah
wafatnya Al-Amin, kekholifahan diganti oleh saudaranya Al-Makmun. Dan pada masa
inilah Al-Kindi muncul sebagai seorang tokoh yang mendapat kepercayaan untuk
menerjemahkan kitab-kitab yunani kedalam bahasa arab, bahkan ia member komentar
terhadap pikiran-pikiran pada filosof yunani.
Al-Kindi yang
dilahirkan di Kuffah pada masa kecilnya memperoleh pendidikan di Bashrah.
Tentang siapa-siapa gurunya tidak dikenal, karena tidak tarekam dalam sejarah
hidupnya.tetapi dapat dipastikan ia mempelajari ilmu-ilmu sesuai dengan
kurikulum pada masanya. Ia mempelajari Al-Qur'an, membaca, menulis, dan
berhitung.
2.Karya-Karya Al-Kindi
Karya ilmiah
Al-Kindi kebanyakan berupa makalah-makalah' tetapi jumlahnya amat banyak, ibnu
nadim dalam kitabya Al-Fihris, menyebutkan lebih dari 230 buah. George N.
atiyeh menyebutkan judul-judul makalah dan kitab-kitab karangan Al-Kindi
sebanyak 270 buah, dalam bidang filsafat, karangan Al-Kindi pernah diterbitkan
oleh Prof. Abu Ridah (1950) dengan judul Rasail Al-Kindi Al-Falasafah.
Karangan-karangan
Al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan kecermatannya dalam
memberikan batasan-batasan makna istilah-istilah yang dipergunakan dalam
terminology ilmu filsafat .masalah-masalah filsafat yang ia bahas mencakup
apistimologi, Metafisika, etika, dan sebagainya.sebagaimana halnya para
penganut aliran phitagoras.
Dari
karangan-karangannya dapat diketahui bahwa Al-Kindi adalah penganut aliran
eklektisisme. Dalam metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat
Aristtoteles, dalam psikologi ia mengambil pendapat plato, dalam bidang etika
ia mengambil pendapat Socrates dan plato.meskipun demikian, kpribadian Al-Kindi
sebagai filosof muslim tetap bertahan.
Sebagai
seorang filosof yang mempelajari mempertemukan agama dan filsafat yunani,
Al-Kindi banyak menghadapi tantangan para ahli agama. Sebagai seorang pelopor
yang dengan sadar berusaha mempertemukan agama dengan filafat yunani, Al-Kindi
mengatakan bahwa filsafat adaalah semulia-mulia ilmu dan yang tertinggi
martabatnya, dan filsafat menjadi kewajiban setiap ahli pikir untuk memiliki
filsafat itu.
Dengan
demikian, bagi Al-Kindi berfilsafat tidaklah berakibat mengaburkan dan
mengorbankan keyakinan agama, seperti yang dituduhkan orang kepadanya. Filsafat
sejalan dan dapat mengabdi kepada agama.
3. Filsafat Al-Kindi
Al-Kindi
banyak menyajikan definisi filsafat tanpa mengatakan bahwa definisi mana yang
menjadi miliknya, yang disajikan adalah definisi-definisi filsafat terdahulu,
itupun tampa
ditegaskan dari siapa diperolehnya. Mungkin dengan menyebut dengan berbagai
macam defenisi itu dimaksud bahwa pengertian yang sebenarnya tercakup dalam
semua defenisi yang ada, tidak hanya pada salah satunya, hal ini berarti bagi
Al-Kindi, bahwa untuk memperoleh pengertian lengkap dari filsafat itu harus
memperhatikan semua unsur yang terdapat dalam semua definisi tentang filsafat.
Definisi-definisi Al-Kindi sebagai berikut:
1.Filsafat
terdiri dari dua kata, philo, sahabat dan Sophia, kebijaksanaan. Filsafat
adalah cinta kepada kebijaksanaan, definisi ini berdasar atas etimologi yunani
dari kata-kata itu.
2.Filsafat
adalah mempunya upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatantuhan sejauh dapat
dijangkau oleh kemampuan akal manusia.
3.Filsafat
adalah latihan untuk mati, yang dimaksud dengan mati adalah bercerainya jiwa
dari badan.
4.Filsafat
adalah pengetahuan dari segala pengetahuandan kebijaksanaan dari segala
kebijaksanaan.
5.Filsafat
adalah pengetahuan manusia tentang dirinya. Definisi ini menitik beratkan pada
pungsi filsafat sebagai upaya manusia mengenal dirinya sendiri.
6.Filsafat
adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang abadi dan secara menyeluruh (
umum ).
Al-Kindi juga
menegaskan bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang
berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, kuasa dari semua kebenaran. Filosof
yang sempurna dan sejati adalah yang memiliki pengetahuan tentang yang paling
utama.
4. Filsafat Fisika
Soal fisika di
uraikan oleh Al-kindi dalam beberapa risalahnya. Risalah –risalah ini pun masih
menunjukkan corak aristoteles dan platonisme, dengan jalan memilih dan
menggabungkan pikiran-pikiran kedua filosof tersebut.
Al-kindi
mengatakan bahwa ala mini ada illat-nya
(sebab) yanh jauh dan menjadikan sebagiannya sebagai Illat bagi yang lain. Oleh karena itu, ala mini asalnya tidak ada,
kemudian menjadi ada, karena di ciptakatan oleh tuhan, dan kerenanya pula, ia
tidak dapat membenarkan qadimnya alan.
Ia mengatakan
bahwa di dalam ala mini terdapat bermacam-macam gerak, antara lain gerak
kejadian dan empat illat yang telah
di perkatakan oleh Aristoteles sebelumnya, yaitu
1. illat-materi
atau illat unsure (illat addiyah; material cause),
2. illat bentuk
(illat shuriyah; form cause),
3. illat pencipta
(illat fa’ilah; movingcause),
4. illat tujuan
(illat ghayah; final cause).
Ia akhirnya
sampai ada yang dinamakan “illat pencipta terjauh” , bagi tiap –tiap kejadian
kemusnahan, yaitu illat- pertama atau Tuhan , dan ia juga sampai kepada illat
terdekat, yaitu semua benda langit yang bekerja untuk menjadikan atau
memusnahkan dengan perantaraan empat unsur di atas.
5. Matefisika
Sebagai talah
disebutkan dimuka, Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat yang tertinggi
martabatnya adalah filsafat pertama yang membicarakan tentang causa prima.
Filsafat matefisika Al-Kindi ditulis dalam beberapa makalahnya, khususnya dalam
dua makalah, yaitu tentang filsafat pertama tentang Ke-Esaan tuhan dan
berakhirnya alam.
Tentang
hakikat tuhan, Al-Kindi mengatakan bahwa tuhan adalah wujud yang haq
(sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada
selamanya. Yang ada sejak awal dan akan senentiasa ada selamanya. Tuhan adalah
wujud yang sempurna, yang tidak pernah didahului oleh wujud yang lain dan
wujudnya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujudlain melainkan dengan
perentaranya.
6. Sifat-sifat Tuhan
Persoalan
sifat-sifat tuhan ramai di bicarakan orang pada masa al-kindi, dan dalam hal
ini, ia mengikuti pendirian golongan mu’tazilah. Di antara sifat-sifat tuhan
ialah KEESAAN, suatu sifat yang paling
khas bagi-Nya. Tuhan itu zat-Nya dan satu dalam hitungan. Karena itu pula
sifat tuhan ialah Mahatahu, yang Maha
Berkuasa, yang Mahahidup, dan seterus nya.
Al-kindi
membuktikan keesaan tersebut dengan mengatakan bahwa Ia bukan benda(huyula,
maddah); bukan form (shurah); tidak mempunyai kualitas; tidak mempunyai kualitas;
tidak berhubungan dengan yang lain (idhafah), misalnya sebagai ayah atau ana; tidak bias disifati
dengan apa yang ada dalam pikiran; bukan genus, bukan differentia (fasl);bukan
proprium (khassah), bukan accident (aradh); tidak bertubuh, tidak ada yang
bergerak. Oleh karena itu , Tuhan adalah keesaan berkala, tidak ada yang lain
kecuali keesaan itu semata. Begitu pula, Tuhan bersifat azali, yaitu zat yang
sama sekali tidak bisa dikatakan pernah tidak ada, atau pada permulaan nya
ada,melainkan zat yang adadan wujud-Nya tidak bergantung pada yang lain-Nya
atau bergantu pada "sebab”; tidak ada yang menjadikan-Nya dan tidak ada
sebab yang ia ada; Zat yang kerena-Nya iaada bukan subjek atau predikat.
Zat yang azali
tidak rusak (musnah). Ia tidak bergerak, karena dalam gerak itu ada pertukaran
yang tidak sesuai dengan wujud tuhan yang sempurna. Karena za yang azali itu
tidak bergerak ,zaman (waktu)tidak berlaku padanya, karena Zaman itu adalah bilangan
gerak. Akan tetapi, zat tersebut mempunyai sefat khusus yang disembutnya “ibda”
artinya menjadikan sesuatu tiada, tampa
mengandung pengertian bahwa ia mempunyai perasaan atau menerima pengaruh
(infi’al atau taatstsur).
Tuhan adalan
sebab-pertama (first cause), dimana wujud-Nya bukan karena sebab yang lain. Ia
adalah zat yang menciptakan, tetapi
bukan di ciptakan; menciptakan segala sesuatu dari tiada. Ia adalah zat yang menyempurnakan, tetapi buka di
sempurnakan. (A. Hanafi, 1991 :78)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Al-kindi
adalah filosof islam yang mula-mula secara sadar berupaya mempertemukan
ajaran-ajaran islam dengan filsafat yunani. Sebagai seorang filosof, al-kindi
amat percaya kepada kemampuan akal unt06/10/2012uk memperoleh pengetahuan yang
benar tentang realitas. Tetapi dalam waktu yang sama diakuinya pula
keterbatasan akal untuk mencapai pengetahuan metafisis.
Oleh karenanya
menurut al-kindi diperlukan adanya Nabi yang mengajarkan hal-hal diluar
jangkauan akal manusia yang diperoleh dari wahyu Tuhan. Dengan demikian,
al-kindi tidak sependapat dengan para filosof yunani dalam hal-hal yang
dirasakan bertentangan dengan ajaran agama islam yang diyakininya. Misalnya
mengenai kejadian alam berasal dari ciptaan Tuhan yang semula tiada,
berbeda dengan
pendapat aristoteles yang mengatakan bahwa alam tidak diciptakan dan bersifat
abadi. Oleh karenanya al-kindi tidak termasuk filosof yang dikritik al-ghazali
dalam kitabnya tahafut al-falasifah (kerancuan para filosof).
Karangan-karangan
al-kindi umumnya berupa makalah-makalah pendek dan dinilai kurang mendalam
dibandingkan dengan tulisan-tulisan farabi. Namun sebagai filosof perintis yang
menempuh jalan bukan seperti para pemikir sebelumnya, maka nama al-kindi
memperoleh cetak biru dan mendapat tempat yang istimewa di kalangan filosof
sezamannya dan sesudahnya. Tentu saja ahli-ahli pikir kontemporer yang cinta
kebenaran dan kebijaksanaan akan senantiasa merujuk kepadanya.
B. SARAN
Kepada para
Teman-teman Sekalian dianjurkan untuk memahami ttg pmikiran Al-Kindi ini agar
nantinya kita bisa memahami dan juga mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Dr. Hasyimsyah
Nasution, M.A, Filsafat Islam, Jakarta: gaya media pratama,
cet.III, 2002.
Dr. H.A.
Mustafa, Filsafat Islam, Bandung:
pustaka setia, cet. II, desember 2004.
Prof.Dr.H. Abu
Bakar Aceh, sejarah filsafat islam,Jakarta
:CV. Ramadani, cet.I, 1970.
Yunasril Ali,
perkembangan pemikiran falsafi dalam islam, Jakarta: bumi aksara, cet.I, 1991.
Dr. Ahmad Fuad
Al Ahwani, Filsafaf Islam, Jakarta: pustaka
firdaus, cet. 8, 1997.Harun Nasution, Falsafat dan mistisisme dalam islam, Jakarta: bulan bintang,
cet.10, 1999.